<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AHMAD SAHIDIN</title>
	<atom:link href="http://ahsa.myblogrepublika.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahsa.myblogrepublika.com</link>
	<description>berbagi pencerahan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Apr 2009 03:39:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dua Hal yang Dapat Membantu Kita Mencapai Khusyuk dalam Shalat</title>
		<link>http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=30</link>
		<comments>http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=30#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 03:37:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[warta]]></category>
		<category><![CDATA[khusyuk]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Taimiyah memberikan penjelasan bahwa ada dua hal yang dapat membantu kita mencapai kekhusyukan dalam shalat, yaitu kuatnya sesuatu yang membuat berkonsentrasi dan lemahnya sesuatu atau hilangnya penghalang yang dapat mem¬buyarkan konsentrasi.
Kuatnya sesuatu yang membuat berkonsentrasi adalah dengan cara berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mengerti apa yang diucapkan dan apa yang diperbuatnya dalam shalat, sekaligus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ahsa.myblogrepublika.com/files/2009/04/sholat-top_22012009-copy.jpg" alt="sholat-top_22012009-copy" width="200" height="294" class="alignleft size-full wp-image-31" />Ibnu Taimiyah memberikan penjelasan bahwa ada dua hal yang dapat membantu kita mencapai kekhusyukan dalam shalat, yaitu kuatnya sesuatu yang membuat berkonsentrasi dan lemahnya sesuatu atau hilangnya penghalang yang dapat mem¬buyarkan konsentrasi.<span id="more-30"></span></p>
<p>Kuatnya sesuatu yang membuat berkonsentrasi adalah dengan cara berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mengerti apa yang diucapkan dan apa yang diperbuatnya dalam shalat, sekaligus berusaha menghayati bacaan, zikir, dan doa. Selain itu, juga menghadirkan hati bahwa ia sedang bermunajat dengan Allah Swt. bahkan seolah-olah ia melihat-Nya (ihsan). Hal ini karena pada hakikatnya, seseorang yang shalat itu tengah bermunajat dengan Rabb-nya. Ihsan ialah Anda menyembah Allah seolah-olah Anda melihat-Nya. Jika Anda ternyata tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa Dia melihat Anda. Selanjutnya, setiap kali seseorang dapat merasakan betapa nikmatnya shalat, tentu saja ia akan selalu terdorong untuk mengerjakan shalat. Daya tarik seseorang untuk mengerjakan shalat sangat bergantung pada kekuatan imannya.</p>
<p>Banyak faktor yang menyebabkan iman itu semakin kuat dan kokoh. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda, “Disenangkan bagiku urusan duniawimu, yaitu wanita dan harum-haruman, dan dijadikan shalat itu sebagai penyejuk hati.”  Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. bersabda, “Berilah kami kesenangan dengan melakukan penyegaran dengan melakukan shalat, wahai Bilal.” Beliau tidak berkata, “Senangkan kami darinya (shalat).”</p>
<p>Adapun yang kedua adalah hilangnya penghalang kekhusyukan. Hal itu bisa dilakukan dengan cara berusaha dengan segenap kemampuan untuk membendung sesuatu yang dapat menyibukkan hati, seperti memikirkan sesuatu yang tidak berguna. Sekaligus juga berusaha menghayati faktor-faktor yang menyebabkan hati dapat memahami tujuan shalat. Hal seperti ini bisa dilakukan oleh setiap manusia sesuai dengan kebersihan hatinya karena banyaknya was-was dalam hati. Itu pun sangat bergantung kepada banyaknya syubhat (sesuatu yang tidak jelas halal dan haramnya) dan keinginan-keinginan (duniawi) yang terpendam dalam hati. Selain itu juga karena hati sudah terpatri dengan segala sesuatu yang dicintainya yang dapat menyebabkan hati tertuntut untuk menggapainya. </p>
<p><em>[Diambil dari buku  <strong>Shalat T.O.P </strong>karya Drs. H. Fatikhin dan H. Muhammad Saifudin, Lc., yang telah diterbitkan oleh Salamadani Bandung, Februari 2009. Bagi yang berminat beli silahkan kontak:  (022) 522 2052, (021) 392 6774, (0271) 720 935, 0813 9051 8301, dan (031) 829 5101)]<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahsa.myblogrepublika.com/?feed=rss2&amp;p=30</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Buku Itu Hanya Soal Taktis!</title>
		<link>http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=27</link>
		<comments>http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=27#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 03:09:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[taktis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Oleh AHMAD SAHIDIN
SABTU (7/03/2009) pekan kemarin saya beruntung dikutsertakan menjadi peserta dalam training “Taktis Menulis Buku” yang diselenggarakan oleh Trim Communication di salah satu hotel ternama di Bandung. Pesertanya dari beragam profesi yang hadir, dimulai dari mahasiswa, editor, pengajar, karyawan Disnaker, karyawan Takaful, presenter TV dan juga seorang ibu sepuh mantan dosen. Jika tidak salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh AHMAD SAHIDIN</p>
<p>SABTU (7/03/2009) pekan kemarin saya beruntung dikutsertakan menjadi peserta dalam training “Taktis Menulis Buku” yang diselenggarakan oleh Trim Communication di salah satu hotel ternama di Bandung. Pesertanya dari beragam profesi yang hadir, dimulai dari mahasiswa, editor, pengajar, karyawan Disnaker, karyawan Takaful, presenter TV dan juga seorang ibu sepuh mantan dosen. Jika tidak salah hitung, ada sekitar 15 peserta yang masiung-masing berasal dari Bandung, Jakarta, dan Solo.</p>
<p>Training yang berlangsung dari jam 09.00 hingga sore ini dipandu langsung oleh Bambang Trim. Siapa yang tak kenal Bambang Trim? Mereka yang berkecimpung dalam dunia kepenulisan dan penerbitan (editing) pasti mengenalnya. </p>
<p>Dari training itu saya mendapatkan sesuatu yang sangat berbeda dari beberapa pelatihan menulis yang sebelumnya telah saya ikuti. Tidak hanya memberikan motivasi dan mengubah mindset, tapi juga membimbing bagaimana membuat buku dari awal hingga akhir: prewriting, darfting, revising, editing, publishing, dan powerfull writing.<span id="more-27"></span> </p>
<p>Yang menarik, Pak Bambang Trim, mempersilahkan setiap peserta untuk menuliskan judul atau tema buku yang akan ditulisnya. Kemudian dibimbing menurunkannya menjadi outline dan diberi tips untuk pengembangannya agar tulisannya itu mendalam, luas dan berbobot. Bahkan, diberi tips mengimajinasikan kover buku dan cara membuat teks punggung buku. </p>
<p>Di tengah acara, novelis Tasaro GK—penulis novel “Galaksi Kinanthi” yang diterbitkan Salamadani, 2009—hadir untuk berbagi pengalaman dan strategi menulis karya fiksi, khususnya novel. </p>
<p>Menurut Tasaro, sebuah karya fiksi bisa dikatakan bagus dan akan diterima dimasyarakat pembaca apabila di dalamnya menyajikan kisah yang baru, memiliki karakter kuat (bagus), alur cerita yang luar biasa, dan diksi atau pilihan kata yang menarik. Apalagi jika ditambah dengan tema dengan isu yang sedang menonjol atau hangat di masyarat, akan membuat makin terasa menarik atau menyedot orang-orang untuk membacanya. </p>
<p>Setelah jeda istirahat dan makan siang. Penulis, pakar editing dan praktisi penerbitan, Bambang Trim kembali melanjutkan. Pak Bambang menjelaskan bahwa penulisan buku berbeda dengan artikel atau feature yang khusus untuk media masa seperti koran, majalah, jurnal, atau online. “Buku itu isinya tuntas, mendalam, dan prosesnya panjang,” katanya.</p>
<p>“Menulis buku itu tidak gampang, juga tidak sulit. Tapi hanya soal taktis saja!” kata Bambang Trim dengan gaya khas. Menurutnya, seseorang yang akan menulis harus berani buka mata, buka telinga, buka pikiran, buka perasaan, dan berani mengalami (buka pengalaman). Apabila seseorang sudah melakukan itu, maka akan keluarlah gagasan yang berwujud tulisan. “Keluarkan buku dari dirimu!” cetusnya. Bisakah? “Tulislah gagasan yang ada dalam pikiran, yang dipikirkan, yang dirasakan atau yang dialami hingga menjadi tulisan!” ujarnya.    </p>
<p>“Kumpulkan semua diksi yang berkaitan dengan apa yang kita lihat, dengar, dan pikirkan. Tulislah diksi-diksi itu dan rangkailah dalam sebuah jalinan cerita hingga berwujud tulisan. Ingatlah, gagasan yang tidak segera ditulis akan diambil orang!” pesannya.</p>
<p>Karena itu, seseorang yang akan menulis perlu memiliki keterampilan dalam membuat drafting berupa catatan ide-ide dan outline isi buku yang akan ditulis, sehingga ide yang muncul dalam pikiran tidak lepas begitu saja. Hmm…seperti kata Imam Ali bin Abu Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”  </p>
<p>Bambang Trim juga mengatakan bahwa setiap hari tidak lupa membawa buku catatan kecil untuk menulis ide-ide yang muncul. “Selain mencatat di handphone, communicator atau blackberry, ya bawa buku kecil dan pulpen untuk mencatat ide-ide atau hal-hal menarik yang bisa kita kembangkan menjadi buku,” pesannya. </p>
<p>Hal lainnya, kata Bambang Trim, seorang penulis harus mampu menghadirkan memori pengetahuan atau pengalaman yang menjadi bahan tulisannya itu dengan senantiasa mengakrabkan diri dengan membaca referensi, belajar dan berlatih tiada henti, dan sering melakukan silturahim atau berinteraksi dengan orang-orang untuk meluaskan wawasannya.</p>
<p>“Jangan membuat buku yang tidak orang sukai, yang tidak dikuasai, dan jangan membuat buku yang tidak ada referensinya,” pesan Pak Bambang Trim di akhir acara.</p>
<p>Luar biasa dan mencerahkan. Meski seharian, dari pagi hingga sore, saya tidak merasa bosan dalam menyerap ilmu kepenulisan yang disampaikan dalam training itu. Ya, tentu saja selanjutnya yang harus dilakukan adalah mempraktikannya dengan segera. </p>
<p>Bandung, 11-12 Maret 2009 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahsa.myblogrepublika.com/?feed=rss2&amp;p=27</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GK: Bukan Novel Biasa</title>
		<link>http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=25</link>
		<comments>http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=25#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 06:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[warta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Galaksi Kinanthi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Kidul]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Tasaro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Oleh BAMBANG TRIM
Malam, tanggal 10 Februari kemarin, berlangsung bedah seru novel &#8220;Galaksi Kinanthi&#8221; karya Tasaro GK. Dokter nyentrik (gimana gak nyentrik, sang dokter hadir dengan jeans kumal khasnya, plus robek sedikit di lututnya, wah-wah), Tauhid Nur Azhar, membedah dengan bahasa akademis yang menarik. Di sisi lain, ditimpali bahasan keren Mbak Rida RSD sebagai pembaca dadakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh BAMBANG TRIM</em></p>
<p>Malam, tanggal 10 Februari kemarin, berlangsung bedah seru novel &#8220;<a href="http://penerbit-salamadani.com">Galaksi Kinanthi</a>&#8221; karya Tasaro GK. Dokter nyentrik (gimana gak nyentrik, sang dokter hadir dengan jeans kumal khasnya, plus robek sedikit di lututnya, wah-wah), Tauhid Nur Azhar, membedah dengan bahasa akademis yang menarik. Di sisi lain, ditimpali bahasan keren Mbak Rida RSD sebagai pembaca dadakan novel ini.</p>
<p>&#8220;Galaksi Kinanthi ini menghubungkan antara Islam tradisional dan Islam rasional (liberal). Jadi, kalau mau cari persinggungan tradisional dan liberal dalam kisah yang nyaris sempurna, ya di novel ini,&#8221; ujar Dokter Tauhid sambil melempar senyum.</p>
<p>&#8220;Saya melihat cinta begitu realistis. <span id="more-25"></span>Tema yang aktual dan membuat saya tidak bisa berhenti membacanya. Bahkan, beberapa bagian benar-benar mengaduk emosi,&#8221; demikian ringkas Rida berbinar dengan jilbabnya.</p>
<p>He-he-he bagaimana dengan Tasaro GK sendiri? Mengaku jujur, dia sendiri tidak pernah membayangkan bahwa novelnya adalah adonan nikmat spiritual, plus aktualisasi cinta, ditambah bumbu kontekstual tentang sebuah kampung di Gunung Kidul yang kerap merana dan drama trafficking yang hampir tak terjamah sebagai sebuah tragedi bangsa. </p>
<p>Polosnya, Tasaro GK tak merencanakan semua itu. Gagasan mengalir begitu saja dengan plot yang memang sudah direncanakan&#8211;plot maju, lalu flashback, membuat pembaca diharu-biru oleh waktu sekaligus tempat-tempat yang menggetarkan. Aneh bin ajaib nuansa-nuansa spiritual hadir begitu kental, pertentangan batin dengan perwatakan tokoh yang ok banget, serta sindiran-sindiran atas kebobrokan dunia, untuk tidak mengatakan moral manusia. </p>
<p>Hmm&#8230; novel ini seperti jawaban untuk pro-kontra &#8220;Wanita Berkalung Sorban&#8221;. Sebaiknya, Hanung segera memfilmkan novel ini untuk memahami lebih dalam simbol dalam spiritualitas. Tapi, saya kira Tasaro GK akan lebih memilih Imam Tantowi untuk memfilmkannya. Seperti kata Rida RSD, &#8220;Novel ini harus difilmkan!&#8221; Adakah produser dan sutradara yang berminat? Baca dulu novelnya, jangan pernah tertarik dengan kecapnya!</p>
<p>Lalu, GK ini novel spiritual, aktual, atau kontekstual? Ibarat sebuah pasaraya, semuanya ada. &#8220;Tasaro memang penulis kaya,&#8221; demikian komentar Mbak Helvy Tiana Rosa.</p>
<p>GK memang novel kaya yang membuat kita keluar dari Garis Kemiskinan hanya disebabkan kuatnya Gairah Kemunafikan. Semoga membaca GK membuat Anda memasuki wilayah Gemilang Kehidupan karena dikayakan oleh makna, rasa, dan emosi dalam adonan penuh kualitas: spiritualitas, aktualitas, dan kontekstualitas.</p>
<p>Selamat membaca, tapi jangan lupa beli dulu novelnya.</p>
<p><strong>&gt;&gt;BAMBANG TRIM (praktisi perbukuan Indonesia)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahsa.myblogrepublika.com/?feed=rss2&amp;p=25</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Musthafa : Manusia Pilihan Yang Disucikan</title>
		<link>http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=23</link>
		<comments>http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=23#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 06:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[warta]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Musthafa]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Kang Jalal]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad saw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahsa.myblogrepublika.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Karen Armstrong menulis Muhammad: Prophet of Our Time, ia mengisi salah satu babnya dengan ayat-ayat setan. Karena ia pernah belajar sastra inggris, Armstrong menggunakan teknik-teknik cerita yang dramatis. Seorang muslim Indonesia yang tinggal di Amerika terkagum-kagum dengan tulisan Armstrong. Ia dipuji sebagai orang barat yang memberikan pengertian yang benar tentang Nabi Muhammad dan agama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika Karen Armstrong menulis <em>Muhammad: Prophet of Our Time</em>, ia mengisi salah satu babnya dengan ayat-ayat setan. Karena ia pernah belajar sastra inggris, Armstrong menggunakan teknik-teknik cerita yang dramatis. Seorang muslim Indonesia yang tinggal di Amerika terkagum-kagum dengan tulisan Armstrong. Ia dipuji sebagai orang barat yang memberikan pengertian yang benar tentang Nabi Muhammad dan agama Islam. Ketika ia membaca terjemahannya dalam bahasa Indonesia, ia membaca kata pengantar dari KH. Jalaluddin Rakhmat yang biasa di panggil dengan Kang Jalal ini. </p>
<p>&#8220;Saya baru tahu bahwa selama ini saya tidak bisa kritis membaca tarikh Nabi,&#8221; katanya dalam blognya di internet. <span id="more-23"></span></p>
<p>Dalam pengantar buku itu Kang Jalal menulis :</p>
<p>&#8220;Para penguasa politik menciptakan naratif Nabi yang sesuai dengan kepentingan politiknya. Para pendusta yang tampak saleh mencemari naratif Nabi dengan imajinasinya. Dongeng-dongeng mereka masuk ke dalam perbendaharaan hadis. Hadis adalah berita tentang perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat-sifat &#8211;fisik dan mental &#8212; yang dinisbahkan kepada Nabi SAW. Hadis adalah bahan utama tarikh Nabi. Bila sebagian sumber hadis adalah rekaan para penguasa dan para pendusta, apa yang terjadi pada tarikh Nabi?</p>
<p>Kita menemukan naratif Nabi yang tidak menggambarkan kesucian, kemuliaan, dan keagungan Nabi. Bayangkan biografi Anda ditulis oleh musuh-musuh Anda? Kisah-kisah Nabi seperti itu bertebaran pada kitab-kitab hadis dan tarikh. Kaum Munafik membacanya dengan senang. Peneliti non-Muslim berusaha memahaminya dengan latar belakang kebudayaannya.&#8221;</p>
<p>Jika kita tersinggung dengan naratif Salman Rushdie, kenapa kita tidak sakit hati dengan cerita-cerita Nabi yang melecehkan kemuliaannya; hanya karena kisah-kisah itu terdapat dalam kitab kuning atau disampaikan oleh ustaz-ustaz dan kiyai-kiyai yang soleh. Tentu saja tersinggung dengan mengadakan demonstrasi hanya akan mengantarkan penghina Islam dalam ketenaran global. Kisah itu akan terus diulangi. Alih-alih logika kekuatan, kita harus menggunakan kekuatan kekuatan logika. Buktikan bahwa kisah-kisah itu tidak bisa dinisbahkan kepada Manusia Pilihan, yang disapa Tuhan dengan indah: Innaka la&#8217;ala khuluqin azhim! Sesungguhnya engkau di atas akhlak yang agung.</p>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam kata pengantar buku <em>Al-Mustafa </em>edisi pertama (Buku yang ditulis oleh Kang Jalal), buku ini ditulis untuk mengembalikan kemuliaan dan kesucian Manusia Pilihan ke dalam cerita besar kita, Our grand narrative. Kaum mukmin yang sejati berusaha untuk menuliskan kisah hidupnya dengan pola kisah Nabi Saw. Celakalah dia, kalau kisah Nabi yang ditirunya, yang menjadi landasan misi hidupnya, adalah kisah yang keliru.</p>
<p><a href="http://www.smuth.net">www.smuth.net</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahsa.myblogrepublika.com/?feed=rss2&amp;p=23</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
